Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BERITAOPINISumbar

Asa dari Lembah Gunung Marapi Nan Masih Erupsi

739
×

Asa dari Lembah Gunung Marapi Nan Masih Erupsi

Sebarkan artikel ini
Musriadi MUsanif
Example 468x60

Oleh Musriadi Musanif
(Wartawan Utama)

TANAH DATAR, potretkita.id – Tanggal 3 Maret 2024 nanti, genap tiga bulan erupsi besar Gunung Marapi yang menelan korban jiwa. Sebanyak 24 orang meninggal dunia. Ada puluhan lainnya luka-luka.

Para korban, umumnya adalah pendaki yang akan kembali turun usai menikmati wisata akhir pekan ke puncak Marapi, gunung api yang menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat.

Perisiwa pada Tanggal 3 Desember 2023 pukul 15.40 WIB itu tidak akan pernah terlupakan. Peristiwa bencana yang mengurai air mata. Pemicu kesedihan ratusan umat manusia, khususnya para keluarga korban.

Setelah peristiwa itu, erupsi gunung yang terletak di Kabupaten Tanah Datar dan Agam itu, seakan tiada henti. Tiap sebentar. Tak siang, malam. Gemuruhnya membuat ciut nyali. Ini adalah teror psikologis hebat.

Rasa takut tak bisa disembunyikan, ketika perut Gunung Marapi bergemuruh. Laksana orang yang menderita sakit mag berat. Perut keroncongan terus, lalu sendawa.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), selaku pemegang otoritas dalam masalah kegunungapian di Indonesia, terus memantau perkembangan aktivitas gunung itu.

Kesimpulannya: pada tanggal 9 Januari 2024 mulai pukul 18.00 WIB, status Gunung Marapi yang sejak Agustus 2011 berada pada level II atau Waspada, dinaikkan ke Level III atau Siaga. Sudah beberapa kali evaluasi, baik visual maupun instrumental, status Marapi belum bisa diturunkan.

Pada Senin, 26 Februari 2024 di Hotel Muhammadiyah Kauman Padang Panjang, dalam kapasitas sebagai ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Padang Panjang Batipuh X Koto (Pabasko), saya menerima kunjungan tim Medicine Sans Frontieres (MSF) Barcelona, Spanyol.

Ada dua pakar kesehatan dalam rombongan itu, yaitu Mr. Dr. Rey M. Anicete MD selaku head of mission MSF-OCBA yang berbasis Spanyol, didampingi Mr. Joerg Cordes.

Kami yang hadir dalam diskusi itu, didampingi pula dari Satgas MDMC Pabasko, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat H. Marhadi Efendi, dan Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Sumbar Portito.

Berbagai derita dan efek yang dirasakan warga Pabasko, khususnya anggota dan simpatisan Muhammadiyah yang berdomisili di sekitaran Gunung Marapi, saya ceritakan kepada keduanya.

Untuk saksi dan menguatkan cerita, saya juga menghadirkan Ketua Cabang Muhammadiyah X Koto Ustad Wahyu Salim, Cabang Padang Panjang Timur Bapak Firdaus, dan dari Batipuh dihadiri Sekretaris Ahmad Fitri.

Gunung Marapi itu terus erupsi. Setiap hari mengepulkan asap berwarna putih hingga kelabu. Ketinggiannya mencapai 900 meter dari puncak gunung. Pernah juga mencapai 1.500 meter. Abu itu adalah abu vulkanik, yang sangat berbahaya terhadap kesehatan organ-organ pernafasan dan mata.

READ  Bupati Eka Ajak ASN Bekerja dengan Semangat Baru

Kalau ketinggian erupsinya di atas seribuan meter dari puncak kepundan, maka daya jangkaunya juga jauh. Tergantung arah dan kecepatan angin pada waktu kejadian.

Abu vulkanik yang disemburkan ke angkasa akibat erupsi itu, pernah menjangkau perairan Samudera Hindia arah ke Kepulauan Mentawai. Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Kabupaten Padang Pariaman pun, sudah tiga kali menghentikan operasinya, akibat abu vulkanik terdeteksi menjangkau kawasan tersebut.

Laporan jangkauan abu vulkanik, juga pernah diterima dari daerah-daerah terjauh seperti Padang, Sawahlunto, dan kawasan perbatasan segi tiga Pasaman-Limapuluh Kota, Rokan Hulu.

Kalau daerah sekitarnya, seperti Padang Panjang, Batusangkar, dan Bukittinggi, sudah tak terhitung lagi kalinya disiram abu vulkanik.

Warga Pabasko yang paling menderita akibat siraman abu vulkanik itu, begitu saya ceritakan kepada tamu dari Spanyol tersebut, lalu kemudian mengunjungi langsung ke lapangan, adalah Kota Padang Panjang, Kecamatan X Koto, dan Kecamatan Batipuh.

Di X Koto, titik derita itu ada di Nagari Kotobaru, Pandaisikek, Kotolaweh, Aie Angek, Panyalaian, dan Paninjauan. Sedangkan di Batipuh; Nagari Andaleh, Sabu, Batipuah Ateh, dan Batipuh Baruah. Terkadang, abu vulkanik juga menjangkau Nagari Pitalah dan Bungo Tanjuang.

Kehidupan masyarakat di nagari-nagari (desa) terdampak berat itu adalah bertani dan beternak. Mereka bertanam sayur mayur, bersawah ladang, berkolam ikan, dan memelihara ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing.

“Petani sayur itu, kalau mereka menanam sayurnya pagi, maka siang disiram abu vulkanik, sorenya layu. Lalu keesokan harinya sudah mati. Bukan gagal panen lagi namanya, tapi gagal tanam,” sebut saya kepada kedua tamu itu.

Akibatnya, tak ada lagi yang mau dijual ke Pasar Sayur Bukitsurungan dan Kotobaru. Kalau tidak ada yang akan dipanen dan dijual, maka tidak ada uang. Kalau tak ada uang, maka susah dan derita takkan bisa dielakkan.

Ikan dan ternak juga teraniaya. Abu vulkanik yang dihanyutkan air ke kolam, membuat ikan mati. Rerumputan yang disiram abu vulkanik, tentu tidak dimungkin ‘disabik’ dan dihindangkan kepada ternak sapi, kerbau, dan kambing di kandang.

“Kesehatan manusia juga terancam dalam kejadian ini. Saluran pernafasan dan mata akan sakit. Air yang akan digunakan untuk mandi, mencuci, dan keperluan memasak, tentu juga tercemar. Ini masalahnya. Organisasi kami fokus ke bidang kesehatan, nanti bila sudah sepakat bekerja sama, kita dapat bersama-sama melakukan aksi di lapangan,” sebut Mr. Rey.

READ  Gunung Lewotobi Laki-laki Naik Status ke Awas

Kepada warga Muhammadiyah dan masyarakat yang terpapar langsung abu vulkanik tiap sebentar, kami mengajak, sering-seringlah menoleh ke arah Gunung Marapi, sebagai wujud kesiapsiagaan kita, dalam menghadapi berbagai kemungkinan, sesuai arahan pemerintah dan pemegang otoritas kegunungapian.

Andai pun Marapi tak terlihat, karena sering tertutup kabut, tak apa-apa. Lihat-lihat jugalah, siapa tahu akan ada bayangan rona yang nampak. Jangan tunggu disiram abu vulkanik dulu, baru kita menggunakan masker, kaca mata, dan topi. Dengan kerap menoleh Marapi, langkah mitigasi kita akan tertolong.

Sekadar berkabar dan berbagi informasi saja, aktivitas Marapi masih tinggi. Pagi ini saja, Selasa (27/2), sudah dua kali letusannya, yakni pukul 06.45 dan 06.45 WIB. Sudah ratusan kali erupsi terjadi dua bulan ini, dilengkapi dengan ribuan hembusan dan gempa.

Dari pukul 00.00-06.00 WIB, Selasa (27/2) ini, sudah terjadi 15 kali gempa hembusan. Sementara pukul 18.00-00.00 WIB, Senin (26/2) atau enam jam sebelumnya, kejadian gempa hembusan mencapai 45 kali, 3 kali gempa low frequency, 4 kali gempa vulkanik dangkal, 4 kali gempa vulkanik dalam, 3 kali gempa tektonik lokal, 3 kali gempa tektonik jauh, dan satu kali gempa tremor menerus.

Erupsi besar, menurut laman Magma Indonesia, sudah mencapai 80 kali. Ini adalah angka tertinggi, dibanding gunung api lainnya di Indonesia, yang sama-sama berstatus Level II dan Level III.

Kepada pemerintah daerah, khususnya Pemprov Sumbar, Walikota Padang Panjang, Walikota Bukittinggi, Bupati Agam, dan Bupati Tanah Datar yang setiap pekan ‘disurati’ PVMBG, soal status Gunung Marapi, kita berharap tidak lengah dan abai. Jangan tunggu terjadi musibah, baru kita sibuk melakukan evakuasi.

Harapan kami, pemerintah harus konsisten dan rutin melakukan mitigasi, melibatkan masyarakat dan semua elemen terkait. Mitigasi yang baik, tentu akan dapat mengurangi dampak, dan mencegah terjadinya korban, baik jiwa maupun harta benda.

Untuk masyarakat yang pertanian, peternakan, dan usaha lainnya, yang terdampak dan terhenti akibat aktivitas Marapi, lihat-lihat jugalah mereka ke lapangan. Dengar suara mereka. Bantu mereka. Bantuan uang tunai, bahan pangan, dan kebutuhan pokok, kini sedang dinanti.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *