Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BudayaOPINISOSBUD

Manjalang Tuanku Bosa di Talu

327
×

Manjalang Tuanku Bosa di Talu

Sebarkan artikel ini
Gusmizar.(ist)
Example 468x60

Oleh Gusmizar
Pranata Humas Ahli Muda Kantor Kemenag Pasbar
Praktisi Jurnalistik

OPINI, potretkita.id – Manjalang atau mengunjungi, adalah tradisi yang mengakar dalam budaya Minangkabau. Lebih dari sekadar pertemuan.

Tradisi ini adalah jembatan untuk silaturahim dan penghormatan terhadap pucuk adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Di Pasaman Barat, tradisi ini hidup dan berkembang, terutama saat momen Idul Fitri.

Pada hari Jumat, 10 Syawal 1445, atau 19 April 2024, masyarakat Pasbar yang terdiri dari berbagai institusi dan organisasi keagamaan serta kemasyarakatan, berkumpul di Rumah Godang Koto Dalam Talu, Kecamatan Talamau

Mereka berkumpul untuk mengunjungi dan memberikan penghormatan kepada Tuanku Bosa XV, Ir. Jhonny ZA.

Acara manjalang ini dihadiri oleh Wakil Bupati Pasaman Barat Risnawanto, Kepala Dinas Kominfo Pasaman Barat Armen, mantan Bupati Pasaman Barat Yulianto, serta berbagai tokoh dan pimpinan daerah dari institusi keagamaan seperti Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Kegiatan manjalang memiliki makna mendalam dalam budaya Minangkabau di Pasbar. Tujuan utamanya adalah menjaga silaturahmi dan menjalin persatuan di kalangan masyarakat.

READ  Menapak Jejak Gerakan Muhammadiyah di Sukomananti

Dalam sambutannya, Tuanku Bosa XV menyampaikan pentingnya nilai-nilai adat dan tatakrama yang menjadi warisan leluhur. Dengan tradisi ini, masyarakat diingatkan untuk menjaga kebersamaan dan membangun kampung halaman.

Ketua panitia Heliswan menyampaikan, acara ini juga bertujuan untuk mempererat silaturahmi dalam rangka Idul Fitri dan meminta maaf, jika ada kesalahan atau kekhilafan selama acara berlangsung.

Salah satu pesan penting yang disampaikan oleh Tuanku Bosa XV adalah tentang kekuatan kebersamaan. Beliau menekankan, walau ada perbedaan pilihan politik atau latar belakang, persatuan harus dijaga untuk membangun daerah bersama-sama.

Ini adalah panggilan untuk seluruh warga Pasaman Barat, agar terus berkomitmen dalam menjaga kekompakan dan menghindari perpecahan.

Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Pasaman Barat Aida Eliza, memberikan apresiasi kepada Tuanku Bosa XV, karena telah bersinergi dengan pemerintah daerah dalam menjalankan program-program yang berdampak bagi masyarakat.

Beliau menekankan, tokoh adat memiliki peran penting dalam kesuksesan program pemerintah, mengingat tradisi dan adat telah ada jauh sebelum negara terbentuk.

READ  Jalan Tengah Mengakhiri Sengketa Waris di Minangkabau

Tradisi manjalang di Pasaman Barat, khususnya di Kecamatan Talamau, adalah cerminan kuatnya akar budaya Minangkabau.

Kegiatan ini bukan hanya tentang mengunjungi dan memberi penghormatan, tetapi juga tentang menjaga persatuan, memperkuat tali silaturahmi, dan membangun masa depan yang lebih baik bersama-sama.

Kegiatan ini diakhiri dengan acara makan siang bersama, yang menandakan kebersamaan dan persaudaraan di antara semua yang hadir. Tradisi seperti ini adalah warisan yang harus dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.

Sebelumnya, masyarakat yang dihadiri Bupati Pasaman Barat Hamsuardi bersama pihak terkait yang lain, juga mengikuti acara manjalang di tokoh agama Pasaman Barat di Lubuk Landur, Nagari Aur Kuning, Kecamatan Pasaman.

Puncak “manjalang’” guru di Lubuk Landur, serangkai dengan hara raya Puasa Enam bulan Syawal. Kegiatan bersifat tradisional ini dilakukan pada setiap tahun, dan berada dalam bulan Syawal pada setiap tahun seperti pada beberapa hari lalu.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *