Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
OPINI

Merespon Platform Digital

429
×

Merespon Platform Digital

Sebarkan artikel ini
Penulis (kiri) bersama Prof. Dr. Ahmad Zainul, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag RI yang juga seorang penggiat media digital (tengah) dan Dr. Arman Husni (kanan), penulis buku, pada sebuah acara kepenulisan dan media massa digital di Jakarta.(Dok.Pribadi)
Example 468x60

Oleh Irwandi Nashir
Dosen UIN Bukittinggi/Penggiat Media Massa Online

E-mail: [email protected]

DI ANTARA perubahan besar yang disebabkan oleh digitalisasi adalah perubahan hubungan antara media dan pembaca.

Di masa lalu, ketika kebutuhan informasi dipasok dari penerbit konvensional, penerbit yang mampu memenuhi kebutuhan informasi masyarakat dapat hidup dari pendapatan iklan. Dari sudut pandang ekonomi, pasar media konvensional beroperasi dalam dua sisi yangmana penerbit hanya bertemu dengan pembaca dan pengiklan.

Namun di era digital, pasar dua sisi ini telah bertransformasi menjadi pasar multi sisi. Digitalisasi telah menciptakan jenis pasar baru yang dengan cepat mengubah kelangsungan dan keberlanjutan media massa konvensional.

Di dunia penerbitan, pembaca adalah pasar yang sangat dihormati. Hal ini masuk akal karena media hadir sebagai perpanjangan mata dan telinga masyarakat. Media memberi masyarakat hak untuk mengetahui.

Seiring dengan itu, digitalisasi telah memberikan beragam sumber informasi yang tidak lagi terbatas pada pemberitaan media massa. Digitalisasi juga memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk menjadi konsumen sekaligus produsen informasi.

Salah satu aspek kunci dari perubahan hubungan antara media massa dan khalayak digital adalah pergeseran dari khalayak yang mengapresiasi konten menjadi khalayak yang memproduksi konten.
Masyarakat tidak hanya dapat menanggapi berita yang diberikan oleh media massa saja, namun siapa pun dapat membuat dan menyebarkan berita. Masyarakat kini tidak lagi pasif seiring munculnya jejaring media sosial. Alih-alih mampu menyeleksi dan mendiskusikan konten, publik malahan menghasilkan konten sebagaimana layaknya media massa.

READ  Menapak Jejak Gerakan Muhammadiyah di Sukomananti

Platform digital adalah inti dari perubahan besar. Platform digital menjadi titik fokus arus informasi dan dengan cepat menerima peran yang dimainkan oleh media sosial.

Dampak lain dari operasi digital adalah peran berita yang diproduksi semakin meningkat, dibandingkan dengan berita yang disebarluaskan. Hubungan antara media massa dan platform digital yang terjadi dewasa ini adalah media massa membuat berita dan platform digital menyebarkannya.

Satu bentuk hubungan ini memungkinkan platform digital, seperti Facebook dan Google menjual iklan dan mengumpulkan data pengguna dengan memanfaatkan konten milik pihak lain, termasuk dari penerbit.

Platform digital itu sebenarnya lebih kepada distribusi berita, bukan penghasil konten. Lebih dari itu, platform digital ini secara teknologis mampu mengarahkan agenda pemberitaan. Platform digital sesungguhnya telah melangkah lebih jauh dari sekedar perantara konten.

Bersandar pada kekuatan teknologi dan keluasan jaringan yang notabene tidak dimiliki produsen konten, platform digital telah menjalankan fungsi infomediasi berita (news infomediation).
Infomediasi berita merujuk pada kombinasi dari praktik menentukan tujuan, penyuntingan, dan penyebaran konten milik pihak ketiga dalam rangka mempertemukan penawaran dan permintaam atas konten.

Saat ini, posisi infomedia ditempati platform digital, seperti Google dan Facebook. Google dan Facebook ini yang notabene bukan pembuat konten ternyata telah sedemikian rupa menentukan distribusi dan monetisasi atau keuntungan yang diperoleh dari konten.

READ  Warisan Paderi di Salimpaung

Google dan Facebook yang selalu menempatkan diri diri sebagai “penyalur” informasi, sesungguhnya adalah pemegang kontrol atas hampir seluruh sirkulasi informasi. Keduanya adalah pemain utama dalam bisnis periklanan digital sekaligus sebagai wasit yang mendikte praktik periklanan digital mesti dijalankan. Dalam perkembangannya, platform digital menetapkan standar produksi konten.

Platform digital sebagai perantara berita dan pembacanya sesungguhnya hanya akan dapat berfungsi dengan syarat ketersediaan konten yang dipasok dari pihak lain, tidak terkecuali hasil karya jurnalistik yang dihasilkan media massa.

Keberadaan konten jurnalistik ini walaupun tidak dominan dalam jagat digital secara keseluruhannya, tetapi sangat diperhitungkan oleh platform media sosial. Meskipun konten buatan pengguna semakin mendapat tempat di media sosial, berita berkualitas yang diproduksi media massa profesional tetap diperlukan platform digital untuk membangun citra positif dan merebut hati khalayak dan pengiklan.

Di sisi lain, kita dapat melihat hubungan ambigu antara penerbit dan platform digital. Platform digital sering memaksakan skema berbagai konten dan pendapatan kepada penerbit, tetapi juga terus membujuk agar bersedia menyebarkan berita melalui saluran yang disediakan.

Sikap yang tepat menghadapi platform digital tidak lain adalah kesediaan kita untuk mau membuka diri untuk bekerjasama dengan platform digital. Tentu semua itu mesti mesti berada dalam bingkai nilai-nilai etis sebagai pengawal nurani dalam menggunakan platform digital.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *