Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DestinasiTOUR

Menjejal Kota Tua Tempat Peradaban Islam Nusantara Bermula

139
×

Menjejal Kota Tua Tempat Peradaban Islam Nusantara Bermula

Sebarkan artikel ini
Penulis saat berada di tugu Titik Nol Peradaban Islam di kota tua Barus.(ist)
Example 468x60

TAPANULI TENGAH, potretkita.id – Barus, sebuah kota tua di bibir barat Sumatera, menjadi fenomenal sejak awal peradaban Islam masuk ke Nusantara. Dari sinilah, Islam menyebar ke berbagai tempat.

Menandai titik awal peradaban Islam masuk ke Nusantara itu, pada 24 Maret 2017 Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, meresmikan Tugu Nol Peradaban Islam Nusantara. Tugu itu terletak di dekat Pelabuhan Tua Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara.

Di sinilah, para pembawa Islam mendarat. Di tapak tugu itu, diyakini adalah bekas masjid pertama yang didirikan di Kepulauan Nusantara ini.

Di Barus terdapat ratusan makam para pendahulu, mereka yang membawa Islam ke negeri ini. Komplek Pemakaman Al-Mahligai dan Makam Papan Tinggi, dua lokasi yang amat populer dan setiap hari ramai dikunjungi para peziarah.

Menutup akhir tahun 2023, saya kembali menjejal sisi barat Sumatera hingga berakhir di Titik Nol Peradaban Islam. Saya sudah sering melakukan hal itu, khususnya dengan mengambil titik star Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.

Kota-kota penting yang dilintasi adalah Padang Panjang, Bukittinggi, Panyabungan, Padangsidempuan, Batang Toru, Sibolga, dan berakhir di Barus. Kembalinya melintasi Sibolga, Batang Toru, Singkuang-Tabuyung, Natal, Ujunggading, Simpang Ampek, Pariaman, dan berakhir di Kota Padang Panjang.

Tidak sedikit jejak bersejarah yang bisa ditapaki, ketika kita melewati kota-kota penting dalam sejarah peradaban Islam, dan perjuangan merebut kemerdekaan RI itu. Bahkan, garis khatulistiwa yang membelah bumi ini menjadi bagian utara dan selatan, juga tak luput untuk dilalui; Bonjol dan Kinali.

Meski sudah biasa ke sana. Tapi tahun ini menjadi istimewa, karena saya melakukan perjalanan bersama keluarga; Yusriana (istri), Anggia Khalidi Sriadiputra dan Yola Annisa Sriadiputri (anak). Sedangkan si sulung; Teguh Islami Sriadiputra tak bisa ikut serta, karena harus menyelesaikan dengan segera tugas-tugas kuliahnya di Jakarta.

Istimewanya lagi, dalam rombongan kami ikut pula tiga tokoh nasional, yakni Ketua Majlis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. H. Risman Muchtar, M.Si., Sekretaris embaga Dakwah Komunitas (LDK) PP Muhammadiyah sekaligus Pengurus MUI Pusat Dr. Suhardin, M.Pd, dan Ketua LDK PWM DKI Jakarta Sariawan Tanjung. Nama yang disebut terakhir adalah cucu dari tokoh pengembang Muhammadiyah Buya AR St. Mansur.

READ  Lubuk Mata Kucing, Begini Asal Mula Ceritanya

Kami memasuki Barus saat matahari baru sepenggalahan. Sekitar pukul 08.00 WIB. Sebelumnya, kami melaksanakan Shalat Subuh di Masjid Agung Kota Sibolga yang terkenal itu.

Titik Nol Peradaban Islam adalah target pertama kami. Pagi Kamis (28/12/2023) itu, kami menemukan kenyataan, para pengunjung sudah demikian ramai. Rombongan Perantau Barus yang Pulang Basamo dari Meulaboh, adalah kelompok pengunjung terbanyak kami jumpai.

Diskusi Buya Risman dan Suhardin dengan pemandu wisata Tugu Nol Peradaban Islam terlihat alot. Pembahasannya menyangkut dengan sejarah peradaban Islam, tentunya.

Tugu Titik Nol itu hanyalah simbol. Tapi bukti Islam bermula menyebar ke Nusantara, ditemukan dari makam-makam tua yang ada di situ, di antaranya Makam Papan Tinggi.

Makam Papan Tinggi ini terletak di Desa Penanggahan Kecamatan Barus, berada di atas bukit dan harus menempuh 710 anak tangga. Dari seluruh makam syekh yang ada di Barus ini, makam inilah yang paling tinggi tempat keberadaannya, yakni bekisar 200 meter diatas permukaan laut (Mdpl).

Untuk mencapai ke lokasi makam ini, sebelumnya di kaki bukit terdapat pancuran air untuk membersihkan diri atau mengambil air wudhuk. Setelah itu, kita menaiki tangga yang sudah dibuat secara permanen, sebanyak lebih kurang 710 anak tangga atau sekitar 145 meter.

Pemandangan dari bukit pemakaman terlihat panorama yang indah, sekelilingnya adalah hutan bercampur dengan hamparan sawah yang menghijau dan asri. Pemandangan lautan biru, juga terhampar menakjubkan yang mengelilingi Kabupaten Tapanuli Tengah terlihat sangat indah.

Sementara itu, jejak Islam lebih banyak lagi ditemukan di Komplek Makam Mahligai. Makam Mahligai adalah tempat yang terdapat tumpukan-tumpukan kuburan tua. Lokasinya di Desa Aek Dakka, Kecamatan Barus. Luasnya sekitar tiga hektar.

Letaknya di atas bukit tidak jauh dari lokasi Makam Papan Tinggi. Hanya berkisar 3 km. Nama makam Mahligai berasal dari kata ‘Mahligai’ atau istana kecil pada zaman dahulu. Kemudian nama tersebut biasa disebut dengan Makam Mahligai.

READ  Poltekpar Sediakan 3.860 Kuota untuk Mahasiswa Baru

Di sini, Anda akan disambut pemandu atau penjaga makam. Mereka akan dengan senang hati menjelaskan sejarah para auliya itu. Bahkan, juga menunjukkan tanaman barus yang terkenal sejak zaman Firaun berkuasa di Mesir.

Di Makam Mahligai ini terdapat makam Syech Imam Khotil Muazamsyah Biktibai Syech Samsuddin Min Biladil Fansury (dari Negeri Fansyuri), dan Syech Zainal Abidin, Syech Ilyas, Syech Samsuddin, serta makam-makam lainnya yang juga disebut-sebut sebagai pengikutnya.

Lalu ada pula Makam Tuan Syech Machdum. Jaraknya tidak jauh dari pinggiran jalan raya, masih di Desa Bukit Patu Pangan, sekitar 500 meter ke arah pantai menuju pusat Kecamatan Barus.

Untuk menuju makam ini, kita juga harus menaiki sekitar 80 anak tangga. Di makam ini juga terdapat makam lainnya yang disebut-sebut sebagai para pengikutnya. Luas area pemakaman sekitar 421,18 m2, dengan ketinggian sekitar 5 meter dari permukaan laut.

Makam Tuan Ibrahim Syah atau Syech Batu Badan. Makam ini terdapat di Simpang Tiga Bukit Desa Patu Pangan, berdekatan dengan Makam Papan Tinggi dan berjarak hanya berkisar 300 meter.

Di atas makam ini, ada batu papan yang memanjang dari arah kepala hingga ke kaki, dengan kata lain panjangnya kuburan tersebut diatasnya ada batu untuk menghimpit makam tersebut.

Menurut ceritanya, Ibrahim Syah wafat pada tahun 825 Hijrah, merupakan raja pertama di Barus, beliau wafat karena dibunuh musuhnya, dan di dalam makam tersebut sengaja dihimpitkan sebuah batu supaya jangan dibongkar orang usil dan iseng.

Lelah berziarah seharian, malamnya dimanfaatkan untuk menikmati kehidupan dari Jembatan Hamzah Al-Fanshuri. Masyarakat Barus dan peziarah, biasanya mewajibkan diri berkunjung ke jembatan ini. Walaupun hanya sekadar melepas penat dan menikmati makanan ringan dari pedagang di kiri kanan jembatan.

Sebenarnya, masih banyak cerita tentang Barus. Nantilah, kita lanjutkan dari sisi lain.(MUSRIADI MUSANIF)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *