Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
OPINI

Menelusuri Sejarah Muhammadiyah di Minangkabau

253
×

Menelusuri Sejarah Muhammadiyah di Minangkabau

Sebarkan artikel ini
Di Komplek Pendidikan Muhammadiyah inilah, kantor Muhammadiyah pertama di luar Jawa berdiri.(ist)
Example 468x60

Oleh MUSRIADI MUSANIF

(Wartawan Utama/Anggota Muhammadiyah di Sumbar)

AGAM – Sungai Batang. Itu adalah nama sebuah nagari (desa) di pinggiran Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Tidak terlalu luas, hanya sekitar 28,13 kilometer persegi. Di sisi timur dan selatan, perkampungan masyarakat Minangkabau itu dipagari Bukit Barisan yang membentengi pedalaman Sumatera.

Di sisi barat, permadani Danau Maninjau menghampar indah. Sungguh, pesona yang tiada henti terhidang, ketika kita berada di desa berpenduduk lebih dari 3.554 jiwa itu.

Agar bisa sampai ke perkampungan yang warganya hidup dari bertani dan nelayan danau, kita bisa melewati Kelok 44 yang tersohor itu, kalau datang dari arah Kota Bukittinggi. Tidak terlalu jauh. Dengan kendaraan bermotor, kita bisa sampai ke gerbang nagari kurang dari satu jam.

Bila Anda datang dari Kota Padang selaku ibukota Provinsi Sumatera Barat, jarak tempuhnya sekitar 148 kilometer yang dapat ditembus dalam waktu kurang dari tiga jam menggunakan mobil.

Menyisir nagari-nagari elok sepanjang pantai barat Sumbar; Pariaman, Sungai Limau, dan Tiku. Lalu memasuki Lubuk Basung selaku ibukota Kabupaten Agam. Takkan lebih dari satu jam dari Lubuk Basung, Anda akan sampai ke Sungai Batang.

Secara kewilayahan, Sungai Batang memiliki tujuh kampung utama yang dalam tatanan pemerintahan di Kabupaten Agam dikenal dengan istilah jorong; yakni Batu Anjang, Batu Panjang, Kampuang Dadok, Kubu, Labuah, Nagari, dan Tanjuang Sani.

Hingga awal 1990-an, ketika kita akan memasuki Nagari Sungai Batang dari arah Pasar Maninjau, maka akan ditemukan adanya tulisan di gerbangnya: “Nagari Muhammadiyah”. Tapi itu dulu, kini sudah tak ada lagi. Entah karena sudah lapuk dimakan usia atau lantaran sejarah mulai dilupakan, tidak tahu pula kita.

“Tulisan yang bisa kita baca di gerbang itu kini berbunyi: Anda memasuki nagari madani, wisata reliji,” terang Mayulis, seorang guru dan pemuka masyarakat Nagari Sungai Batang, beberapa waktu lalu.

Ya, Nagari Muhammadiyah Sungai Batang. Dari sinilah cerita kita awali, fakta tentang Cabang Muhammadiyah pertama di luar Pulau Jawa. Kalau di Yogyakarta, Persyarikatan Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan, maka di Sungai Batang itu, Muhammadiyah berdiri pada tahun 1925, lalu disusul cabang kedua di Padang Panjang (1926).

Menurut Mayulis, di Komplek Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTsM) Muaro Pauah Sungai Batang saat ini, dahulu adalah sekretariat dan pusat dakwah Muhammadiyah pertama di Sumatra, ketika akses transportasi amatlah sulit dengan kondisi negeri yang masih berada di bawah jajahan Belanda.

Berdasarkan beberapa catatan sejarah, terutama yang ditulis Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Prof. Dr. Hamka), Hj. ‘Aisyah Rasyid (putri AR Sutan Mansur), H. Hasan Ahmad, RB. Khatib Pahlawan Kayo (sesepuh Muhammadiyah Sumbar), dan sumber-sumber lainnya diketahui, untuk pertama kali cabang Muhammadiyah di luar Pulau Jawa memang didirikan di Sungai Batang, Maninjau, yakni pada tahun 1925.

Proses berdirinya Cabang Muhammadiyah Sungai Batang diawali dengan ditugaskannya AR Sutan Mansur kembali ke Minangkabau pada tahun 1924. Saat itu, beliau adalah pimpinan Muhammadiyah di Cabang Pekalongan.

Di Sungai Batang, pada tahun itu telah ada perkumpulan yang didirikan dan dikelola Haji Abdul Karim Amarullah (HAKA) alias Inyiak DR –ayahanda Prof. Dr. Hamka dan mertua dari AR Sutan Mansur.

Organisasi itu bernama Sendi Aman Tiang Selamat. Wadah pergerakan umat inilah yang kemudian dilebur menjadi Muhammadiyah Cabang Sungai Batang. Ketua pertamanya adalah Muhammad Amin Dt. Penghulu Basa (1925-1935).

READ  Asa dari Lembah Gunung Marapi Nan Masih Erupsi

HAKA dan KH. Ahmad Dahlan adalah kawan seperguruan ketika belajar dengan Ahmad Chatib Al-Minangkabawy di Mekah. Sekembali ke kampung halaman, dia mendirikan Sendi Aman Tiang Selamat, sedangkan KH Ahmad Dahlan mendirikan Pengajian Al-Ma’un di Yogyakarta, kemudia dilebur menjadi Persyarikatan Muhammadiyah pada 8 Zulhijjah 1330 H, bertepatandengan 18 November 1912.

Empat tahun setelah cabang Muhammadiyah pertama di Sungai Batang dan kedua di Padang Panjang berdiri, Haji Fakhruddin mengusulkan agar Kongres Muhammadiyah ke-19 dilaksanakan di Minangkabau, yang kemudian terkenal sebagai kongres (muktamar) Muhammadiyah paling meriah di luar Jawa.

“Haji Fakhruddin mengusulkan agar Minangkabau ditunjuk sebagai pelaksana kongres selanjutnya. Ia beralasan, daerah ini merupakan negeri yang mampu memenuhi cita-cita Muhammadiyah, sekaligus pelopor pengembangan persyarikatan di seluruh Sumatera, bahkan seluruh Hindia Timur,” terang Fikrul Hanif Sufyan, seorang pemerhati sejarah yang juga merupakan tokoh Muhammadiyah asal Sumatra Barat.

Penetapan Minangkabau menjadi tuan rumah Kongres Muhammadiyah ke-19 Tahun 1930 itu dilakukan di arena Kongres Muhammadiyah ke-18 Solo Tahun 1929 atas usul Fakhruddin.

Kendati waktu itu delegasi dari Minangkabau belum berani memastikan, tetapi Haji Fakhruddin menegaskan, kalaupun Muhammadiyah Minangkabau belum sanggup jadi tuan rumah, kongres tetap akan dilakukan di Minangkabau.

Begitulah, Haji Fakhruddin waktu itu adalah anggota Hoofdbestur dan tokoh kepercayaan KH. Ahmad Dahlan untuk mengembangkan syiar Muhammadiyah.

Beliau optimis, Muhammadiyah Minangkabau sanggup jadi tuan rumah, kendati baru ada tujuh cabang yaitu Sungai Batang, Padang Panjang, Simabur, Bukittinggi, Payakumbuh, Kuraitaji, dan Simpangharu Padang Luar Kota.

Guna meningkatkan jumlah cabang menyambut kongres, HAKA bersama pimpinan Muhammadiyah lainnya terus melakukan berbagai gerakan intensif, hingga kemudian berdirilah kelompok-kelompok Muhammadiyah di selingkaran Danau Maninjau, yaitu Tanjuang Sani, Pandan, Galapuang, Batu Nanggai, Muko Jalan, Sigiran, dan Koto Panjang.

Di seluruh kawasan Minangkabau prakongres, dari Sungai Batang berkembanglah Muhammadiyah hingga menjangkau 27 daerah. Bahkan, dari sini pulalah Muhammadiyah meluas sampai ke Sibolga dan Sipirok.

Kekuatan Muhammadiyah Minangkabau juga didukung Cabang Lakitan Bandar Sepuluh, dan beberapa cabang di luar Minangkabau yang pimpinannya adalah perantau asal Sungai Barang, seperti Cabang Muara Aman (Bengkulu) dan Pagar Alam (Sumatera Selatan).

Menurut catatan Fikrul, kerinduan warga Muhammadiyah se-Nusantara untuk mengikuti kongres di Bukittinggi, rupanya melebihi kesulitan ekonomi yang kala itu sedang mendera.

Kerinduan itu juga menjangkau batin perantau Minangkabau, yang tersebar di hampir seluruh kota Indonesia, sehingga ada-ada saja alasan mereka, agar secepatnya sampai di kampung halaman.

“Saya pulang yang sekali ini tidak membawa uang, hanya menjadi utusan Muhammadiyah,” ungkap seorang perantau Minangkabau yang utusan dari daerah kepada Hoofdcomittee atau panitia pusat kongres itu.

Di Yogyakarta menjelang H-7 pelaksanaan kongres, beberapa agen travel perjalanan menyediakan ongkos murah untuk utusan Muhammadiyah dan Aisyiyah yang ingin menghadiri acara. Entah ulah siapa, tiba-tiba Minangkabau menjadi booming di tanah Jawa.

Sampai-sampai orang yang menggalas (dagang) kaki lima menawarkan dagangannya bertemakan Minangkabau, mulai dari kain, tikar, baju kaus, hingga pisang goreng.

Pesatnya perkembangan Muhammadiyah di Minangkabau, untuk kemudian meluas ke seluruh pelosok negeri di Nusantara dan beberapa negara jiran, memang tak bisa lepas dari keberadaan Nagari Sungai Batang.

Bersamaan dengan itu, perkembangan Muhammadiyah yang bermula dari nagari molek tersebut, tak bisa lepas dari nama Ahmad Rasyid Soetan Mansoer yang kemudian dikenal dengan AR Sutan Mansur atau Buya Tuo.

READ  Warisan Paderi di Salimpaung

Menurut catatan putri beliau; Hj. Aisyah Rasjid, Buya Tuo memang memiliki peran penting dalam mendirikan dan mengembangkan Muhammadiyah di Sungai Batang, kemudian meluas ke seluruh Minangkabau, sekembalinya dari Yogyakarta dan Pekalongan.

Sebelum pulang ke Sungai Batang, Buya Tuo dipercaya KH Ahmad Dahlan untuk memimpin Muhammadiyah Cabang Pekalongan.

Sebelum AR Sutan Mansur pulang ke Sungai Batang untuk meningkatkan gerakan Muhammadiyah, di Minangkabau sedang terjadi pertikaian hebat.

Kalangan komunis terus menghasut dan mengadudomba warga, terutama untuk menjegal perkembangan Muhammadiyah. Kalangan pemuka adat juga banyak yang terpengaruh propaganda komunis tersebut.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah waktu itu (1926), menugaskan AR Sutan Mansur pulang kampung ke Sungai Batang.

“Kedatangannya ke kampung halaman, kiranya tepat pada waktunya. Kalau bukanlah Sutan Mansur yang datang, atau kalau dia tidak jadi pulang, Wallahu a’lam. Bagaimana jadinya Muhammadiyah yang mulai berkembang di Minangkabau itu,” kata ‘Aisyah dalam buku Biografi Buya Ahmad Rasyid Sutan Mansoer (2010).

 

Musriadi Musanif

Perkembangan hebat Muhammadiyah di Sungai Batang di bawah kepemimpinan AR Sutan Mansur sejak 1926, disaksikan langsung Haji Fakhruddin yang sengaja diutus Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke sini pada 1927.

Dengan didampingi AR Sutan Mansur, dari Sungai Batang Haji Fakhruddin melanjutkan perjalanannya memantau dan menyemangati perkembangan Muhammadiyah ke Medan. Beliau kembali ke Jawa dengan kesan mendalam terkait dengan perkembangan Muhammadiyah di Sungai Batang, kemudian meluas ke senatero Minangkabau dan Sumatra.

Masih menurut catatan ‘Aisyah, pada 1928, Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali mengirim utusan ke Minangkabau. Kali ini yang mendapat tugas adalah HM. Yunus Anis.

Kesan mendalam Haji Fakhruddin dan Yunus itulah, yang kemudian memotivasi mereka mendorong pelaksanaan Kongres Muhammadiyah ke-19 Minangkabau di ajang Kongres Muhammadiyah ke-18 Solo.

Nah, pada 1-5 Juli 2020 nanti, Kota Solo di Jawa Tengah kembali menjejak sukses Kongres Muhammadiyah ke-18 Tahun 1929, seiring dengan akan dilaksanakannya Muktamar Muhammadiyah ke-48 Tahun 2020.

Pada muktamar kali ini, jutaan warga dan simpatisan Muhammadiyah diperkirakan akan turut hadir. Mereka tidak saja datang dari wilayah, daerah, cabang, dan ranting-ranting Muhammadiyah di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia yang sudah memiliki cabang-cabang istimewa Persyarikatan Muhammadiyah.

Tapi ada satu hal yang menjadi tanda tanya, akankah sejarah 1930 kembali terulang di Sumatera Barat? Setelah Solo sukses pada 1929 melaksanakan Kongres Muhammadiyah, lalu sukses kembali diulang di Minangkabau ada 1930.

Akankah dari Solo ke Minangkabau, berlanjut dari Solo ke Sumatera Barat pada Muktamar Muhammadiyah ke-49 nanti?

Secara organisatoris, kekuatan Muhammadiyah Sumatera Barat –daerah yang pada zaman penjajahan Belanda disebut dengan Minangkabau—memiliki kekuatan 797 ranting, 146 cabang, dengan 19 daerah. Anggotanya ada puluhan ribu orang, sementara simpatisan diperkirakan mencapai jumlah jutaan orang.

Cuma saja, penulis belum optimis, sejarah semarak Muhammadiyah dari Solo ke Minangkabau 1929-1930 akan bisa terulang kembali menjadi dari Solo ke Sumbar 2020-2025. Muhammadiyah di Sumatera Barat belum tentu akan siap menjadi penyelenggara Muktamar Muhammadiyah ke-49 Tahun 2025 nanti.(*)

 

Judul asli : Sungai Batang Cabang Muhammadiyah Pertama di Luar Pulau Jawa
Dengan artikel ini, penulis berhasil meraih Fachrodin Awards 2020. Lomba berskala nasional ini, diselenggarakan Majlis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *