Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
OPINI

Natal Tempat Multatuli Pernah Berkiprah

414
×

Natal Tempat Multatuli Pernah Berkiprah

Sebarkan artikel ini
Musriadi Musanif.(*)
Example 468x60

NATAL, potretkita.id – Berbicara soal pahlawan nasional, tentu pikiran kita langsung kepada para pribumi Indonesia yang berjuang, khususnya dalam mengusir penjajah Belanda dan Jepang dari bumi Indonesia ini.

Tapi ada hal yan menarik: Seorang Belanda bernama Ernest Francois Eugene Douwes Dekker, juga ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Dia juga dikenal dengan nama Multatuli atau Danudirja Setia Budhi.

Multatuli lahir di Pasuruan, Jawa Timur pada 8 Oktober 1879. Ayahnya bernama Auguste Henri Adoeard Douwes Dekker, sedangkan ibunya bernama Lousa Neumann.

Douwes Dekker pernah menikah dengan empat orang perempuan, di antaranya Clara Charlotte Deije, Johanna P Mossel, Djafar Kartodiwedjo, serta Haroemi Wanasita alias Nelly Kruymel.

Douwes Dekker akhirnya menghembuskan napas terakhir pada 28 Agustus 1950, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Namanya diabadikan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soekarno pada 9 November 1961 melalui Keputusan Pres Nomor 590 Tahun 1961.

Mendengar nama Douwes Dekker atau Multatuli, kita tidak boleh melupakan nama Kota Padang dan Natal. Di dua kota itu, dia pernah berdomisili dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Natal adalah sebuah pelabuhan samudera yang terbilang ramai pada masa Belanda menjajah negeri ini, hampir sama ramainya dengan Padang dan Sibolga. Saat ini, Natal adalah sebuah kecamatan dalam wilayah Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Provinsi Sumatera Utara.

Kendati kini berstatus sebagaikota kecamatan, namun aktifitas nelayan terbilang tinggi di sini. Banyak kapal-kapal nelayan yang berlabuh untuk menjual hasil tangkapan mereka. Ada juga yang menjual ikan yang sudah dikeringkan.

READ  Muhammadiyah, Sukomananti dan Nagari Auakuniang

Ada pendapat, Natal adalah bagian dari daerah Rantau Minangkabau, tapi SK-nya digantung oleh pemimpin Pagaruyuang lantaran raja yang menjabat tidak memenuji syarat.

Natal amat dikenal sebagai salah satu tempat persinggahan Douwis Dekker yang kemudian dikenal dengan nama Multatuli. Di Natal ada seruas jalan bernama Jalan Multatuli. Di ruas jalan itu terdapat rumah bekas Multatuli tinggal. Ada pula sumur yang disebut masyarakat setempat dengan ‘sumur multatuli’.

Menurut beberapa referensi yang bisa ditelusuri melalui mesin pencari google, Douwis Dekker alias Multatuli itu tiba di Padang awal abad 18, namun kemudian Gubernur Sumbar Kolonel Andreas Victor Michiels mengirimnya ke Natal menjadi seorang kontroleur.

Dia dikirim ke kota kecil itu karena dikenal memiliki reputasi buruk, yakni suka berjudi dan menempeleng orang.

Di Natal itulah, Douwes Dekker menunjukkan keberpihakannya terhadap pribumi dalam melawan penjajahan Belanda. Padahal pada waktu itu, dia masih berstatus sebagai pejabat kolonial Hindia Belanda.

Ketika bertugas di Natal, beliau sempat menulis sebuah buku terkenal berjudul Losse Bladen uit het Dogbck van een ud Man (Halaman-halaman lepas dari buku harian seorang lelaki tua).

Sayangnya, Natal kini menjadi sepi sendiri. Daerah bersejarah ini seakan tenggelam dalam kesepian pembangunan.

Bertahun-tahun akses transportasi ke sini tidak kunjungi dibenahi. Jalan rayanya dipenuhi lobang. Untunglah, seiring dengan adanya jalan lintas barat Sumatera, Natal dengan mudah bisa dijangkau dari Pasaman Barat.

READ  Nestapa di Balik Kain Sarung

Masyarakat Natal kini bisa tiap hari berkunjung ke Padang dan Bukittinggi, seiring dengan terbukanya jalan mulus di pantai barat tersebut. Warga Natal juga sudah bisa setiap hari berkunjung ke Sibolga melintas jalan mulus dan baru saja selesai dibangun.

Dari Natal ke Sibolga memakan rentang jarak sekitar 150-200 kilometer dengan jarak tempuh 3-4 jam. Entah kenapa, jalan lintas barat itu dibelokkan ke pedalaman Tapanuli Selatan hingga sampai di Batangtoru. Padahal bila dibuka jalan baru melewati Batumundom, tentu jarak Natal-Sibolga bisa lebih diperpendek lagi.

Perjalanan dari Natal melewati Tabuyung hingga Singkuang, memang terbilang kurang nyaman. Selain dihiasi banyak lobang, jalan ini juga jadi tempat bermain berbagai hewan ternak. Beda dengan jalur jalan baru dari Singkuang ke Batangtoru sepanjang lebih dari 145 kilometer yang sepi.

Kendati sepi, tapi banyak pesona alam bisa dinikmati sepanjang jalan. Ada perkebunan kelapa sawit dan karet, ada pula panorama belantara rawa-rawa, air terjun tiga tingkat setinggi 200-an meter bernama Simatutung, dan klimaksnya adalah pesona Danau Siais yang masih perawan.

Lalu, di kota-kota mana sajakah nama Douwes Dekker atau Multatuli yang disematkan menadi nama jalan, sebagaimana halnya yang ada di Natal?***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *