Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
OPINI

Orang Minang Bersyahadat

357
×

Orang Minang Bersyahadat

Sebarkan artikel ini
Ustadz Dr. H. Irwandi Nashir, M.Pd.(ist)
Example 468x60

Oleh Irwandi Nashir
History Enthusiast
E-mail: [email protected]

OPINI, potretkita.id – Sekira 42 tahun setelah Rasulullah SAW wafat, Islam sudah sampai ke Ranah Minang.

Fakta sejarah ini didasarkan catatan dari China yang menyebut, bahwa tahun 684 M sudah didapati suatu kelompok masyarakat Arab di Pariaman.

Buya Hamka (1976) dalam Sejarah Umat Islam turut mendukung catatan China itu. Nama Pariaman sendiri berasal dari kata Barri Aman (daratan yang aman).

Uniknya, perkampungan Arab di Pariaman itu tak seperti perkampungan etnis-etnis lain,sepeti kampung China, kampung Keling yang belakangan sengaja dibentuk dan dilokalisir Belanda agar bisa dikontrol.

Perkampungan Arab di Pariaman tak begitu kentara,bahkan nyaris tak berjejak sebab sudah melebur dengan masyarakat pribumi.

Islamisasi semakin gencar pada dekade ke 2 abad ke 16 melalui para pedagang muslim dari Gujarat yang masuk ke Tiku, Pariaman.

Semua bermula di daerah pesisir pantai, karena penduduk disana lebih dahulu menerima dakwah Islam melalui interaksi dengan para pedagang yang merangkap menjadi dai-dai yang ulung.

READ  Jalan Tengah Mengakhiri Sengketa Waris di Minangkabau

SYARAK MANDAKI

Saat penduduk di daerah pantai sudah mengenal Islam, penduduk di dataran tinggi Minangkabau atau daerah darek masih terlelap dalam selimut kejumudan.

Proses masuknya Islam ke dataran tinggi Minangkabau penuh perjuangan dan terbilang unik. Bukan saja. karena topografi daerahnya yang berbukit dan berlembah, tapi juga karena kuatnya buhul paham animisme dan hinduisme. yang berbalut mistisme di hati dan pikiran penduduk, dan tentu juga disokong oleh para pemimpin kaum yang teguh memegang adat.

Uniknya, saat Islam menyebar di kawasan darek, buhul-buhul ikatan animisme, hinduisme dan budhisme itu secaran perlahan mulai longgar, lalu mengelupas, dan hilang tak berjejak.

Tentu berbeda jika dibandingkan dengan Islamisasi di tanah Jawa yang tetap saja menyisakan jejak hinduisme, bahkan hingga kini.

Pada pertengahan abad ke 17, penduduk di pusat-pusat penambangan emas di Buo, Sumpur Kudus, Talawi, dan Padang Gantiang memeluk Islam. Begitu juga masyarakat di pusat Hindu-Budha di sekitar Saruaso, dan Pagaruyung memeluk Islam.

READ  The Impact of Covid-19 on the Japanese Economy

Corak Islam yang masuk ke dataran tinggi Minangkabau adalah bercorak tasawuf yang dimotori oleh ulama-ulama sufi/ulama tariqat.

Pada abad ke 18 ada 3 aliran tariqat berpengaruh di Minangkabau: Naqsyabandiah, Syattariyah, dan Qadiriyah.

Tariqat Naqsyabandiyah lebih dahulu menyebar di dataran tinggi Minangkabau. Di Agam pusatnya ada di Koto Tuo. Di Lima Puluh Kota berpusat di Taram, dan di Tanah Datar berpusat di Talawi.
Disusul dengan masuknya Tariqat Syattariyah yang diajarkan oleh Syekh Burhanuddin yang bermukim di Ulakan, Pariaman.

Hingga tibalah awal abad ke-19, ketika di Pandai Sikek mucul gerakan permurnian perilaku beragama dari pengaruh paham animisme,Hinduisme,dan Budhisme. Penggerak paham itu dikemudian hari dalam sejarah dikenal dengan nama Kaum Paderi.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *